Selasa, 04 November 2014

Makalah Ilmu budaya dasar : Pengertian Manusia, Keluarga dan Masyarakat



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        LATAR BELAKANG


Manusia sebagai makhluk individu, keluarga, dan masyarakat oleh karenanya manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok atau berorganisasi dan membutuhkan orang lain. Masyarakat merupakan wadah berkumpulnya individu-individu yang hidup secara sosial, masyarakat terdiri dari ‘Saya’, ‘Anda’ dan ‘Mereka’ yang memiliki kehendak dan keinginan hidup bersama.[1] Kita tahu dan menyadari bahwa manusia sebagai individu dan makhluk sosial serta memahami tugas dan kewajibannya dalam stiap tatanan kehidupan berkelompok dan dalam struktur dan sistem sosial yang ada.
Para sosiolog mengartikan masyarakat sebagai sebagai kelompok di dalamnya terdapat orang-orang yang menjalankan kehidupan bersama sebagai satu kesatuan yang diikat melalui kerjasama dan nilai-nilai tertentu yang permanen.[2]
Manusia sebagai makhluk sosial sangat berperan penting dalam perkembangan dan perubahan zaman, sehingga dituntut manusia yang menjadi pelopor dalam perkembangan itu benar-benar manusia yang mempunyai individu, keluarga dan sosial budaya yang positif, agar perubahan zaman dan kebudayaan itu bisa mengacu kepada kemajuan yang lebih baik, baik dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, maupun dari segi aspek yang lain.
Namun dijaman sekarang sebagian orang belum bisa menilai dengan baik peran manusia itu sendiri dalam ruang lingkup Individu, Keluarga Dan Masyarakat, Maka dari itu penulis membuat makalah ini agar dapat bermanfaat untuk kehidupan kita kedepannya, setidaknya memahami Apa tugas dan fungsi kita dalam kehidupan,Selamat membaca. .

1.2.        RUMUSAN MASALAH

A.    Pengertian Individu
B.    Tugas Manusia Sebagai Individual
C.    Pengertian Keluarga Dan Fungsi Keluarga
D.    Pengertian Masyarakat
E.     Hak Dan Kewajiban Individu dalam Masyarakat

1.3.        TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas Individual pada mata kulia Ilmu Budaya Dasar atau Ilmu Sosial Dasar , dan juga yang paling pokok adalah sebagai pembuka wawasan terhadap perkembangan Ilmu Sosial dasar  khususnya pada Pengertian dan fungsi Individual, Keluraga dan Masyarakat. Sebagai Refrensi Untuk ilmu pengetahuan kepada Mahasiswa di IAIN Bengkulu Khusunya dan juga Kepada Masyarakat Umumnya,











BAB II PEMBAHASAAN

2.1 PENGERTIAN INDIVIDUAL

              
Individu berasal dari kata latin individuum yang artinya tidak terbagi. Individu menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa dan seberapa mempengaruhi kehidupan manusia[3] Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagi kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.
Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya,melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Terdapat tiga aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial yang bila terjadi kegoncangan pada suatu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lainnya. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya ada 3 kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya, kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga memengaruhi masyarakat [4].
Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyrakat yang menjadi latar belakang keberadaanya. Individu berusaha mengambil jarak dan memproses dirinya untuk membentuk perilakunya yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang sesuai dengan perilaku yang telah ada pada dirinya.
Manusia sebagai individu salalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi yang prosesnya memerlukan lingkungan yang dapat membentuknya pribadinya. Namun tidak semua lingkungan menjadi faktor pendukung pembentukan pribadi tetapi ada kalanya menjadi penghambat proses pembentukan pribadi.


Pengaruh lingkungan masyarakat terhadap individu dan khususnya terhadap pembentukan individualitasnya adalah besar, namun sebaliknya individu pun berkemampuan untuk mempengaruhi masyarakat. Kemampuan individu merupakan hal yang utama dalam hubungannya dengan manusia.

Manusia sebagai individu memiliki tugas pada dirinya sendiri yaitu: [5]
a.       Menuntut ilmu pengetahuan, merekayasa teknologi serta memanfaatkannya untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk terus belajar. Proses belajar berarti proses perubahan sikap dan perilaku dengan mendapatkan pengalaman dan pelatihan.
b.      Menghiasi diri dan budi pekerti dengan baik serta akhlak yang terpuji, setiap tindakan dan perbuatan dalam kehidupan bermasyarakat selalu bercermin pada keindahan dan keelokan budi pekerti maka akan tercipata kesejukan dalam kehidupan bermasyarakat.

2.2. KELUARGA

              
Keluarga adalah sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan yang tinggal bersama dan makan dari satu dapur yang tidak terbatas pada orang-orang yang mempunyai hubungan darah saja, atau seseorang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan yang mengurus keperluan hidupnya sendiri.
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota” “kelompok kerabat”. Keluarga adalah lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu. Keluarga inti ”nuclear family” terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak mereka.




2.2.1 Pengertian Keluarga


               Beberapa Pengertian Keluarga Menurut Para Tokoh : 
  • Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan[6].
  • Kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki,esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya. [7]
  • Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan[8]
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah :
  •   Unit terkecil dari masyarakat
  •   Terdiri atas 2 orang atau lebih 
  •   Adanya ikatan perkawinan atau pertalian darah 
  •   Hidup dalam satu rumah tangga 
  •   Di bawah asuhan seseorang kepala rumah tangga 
  •   Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga 
  •   Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing 
  •   Diciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan





Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut (9)
  1. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
  2. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. 
  3. Peran Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

2.2.2  Tugas-tugas Keluarga 


Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut[9] :
  1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya. 
  2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
  3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing. 
  4. Sosialisasi antar anggota keluarga. 
  5. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
  6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga. 
  7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas. 
  8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.



2.2.3 Fungsi Keluarga 


Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, sebagai berikut :
  • Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.
  • Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  • Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
  • Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
  • Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
  • Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
  • Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan cara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.
  • Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.
  • Memberikan kasih sayang,perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

2.3. MASYARAKAT


Dalam bahasa inggris, masyarakat disebut society. Asal kata socius yang berarti kawan. Adapun kata masyarakat berasal dari bahasa arab yang berarti berkumpul dan bekerja sama. Adanya saling berkumpul dan bekerjasama ini karena adanya bentuk-bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan, melainkan oleh kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dsb manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan dalm suatu masyarakat.
Berikut dibawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi :
  • menurut Munandar Soelaeman masyarakat merupakan kesatuan sosial yang mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat. Kesatuan sosial mempunyai kehidupan jiwa seperti adanya ungkapan jiwa rakyat, kehendak rakyat, kesadaran masyarakat, dsb.
  • menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
  • Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
  • Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan masyarakat adalah :
  • Kumpulan sekian banyak individu yang terikat oleh satuan adat, hukum dan kehidupan bersama
  • Kesatuan sosial yang mempunyai hubungan erat
  • Kumpulan individu-individu yang mandiri dan hidup berdampingan dalam waktu yang cukup lama.

2.3.1 Hak Dan Kewajiban Individu dalam Masyarakat


Hak ialah suatu yang merupakan milik atau dapat dimiliki oleh seseorang sebagai manusia. Hak ini dapat dipenuhi dengan memenuhinya atau dapat juga hilang seandainya pihak yang berhak merasa rela apabila haknya tidak dipenuhi.

Kewajiban ialah hal-hal yang wajib dilakukan atau diadakan oleh seorang dari luar dirinya untuk memenuhi hak dari pihak yang lain.Yang dapat menentukan individu memiliki hak dan kewajiban adalah norma yang dianut, adat istiadat yang mentradisi dan agama yang diyakini.
Ada dua bentuk hak yang sangat mendasar, yang dapat dimiliki oleh individu :
  1. Hak asasi yang bersifat natural, seperti hak untuk hidup, hak untuk merdeka, hak untuk mendapatkan kehormatan. Hak-hak tersebut yang menyebabkan manusia memperoleh kebebasan pada kurun waktu yang panjang
  2. Hak asasi yang bersifat umum, yaitu hak persamaan. Diperlukan seorang individu dalam kedudukannya sebagai individu dalm suatu masyarakat. Dalam hak persamaan tidak terdapat sifat diskriminasi golongan, jenis, bahasa, agama, pandangan politik, asal negara, tingkat sosial, kelahiran.

Adapun kewajiban individu didalam masyarakat adalah melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dengan cara menghormati hak-hak masyarakat. Jika seseorang memiliki hak untuk dihargai, dirinya juga harus menghargai orang lain. Jika seseorang memiliki hak untuk hidup tenang, dirinya juga harus menjaga ketenangan, demikian seterusnya. 






BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

              
               Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa setiap individu, keluarga dan masyarakat memiliki relasi atau hubungan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Hubungan yang dilandasi oleh nilai, norma dan aturan-aturan diantara komponen-komponen tersebut.
Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu keluarga dan masyrakat yang menjadi latar belakang keberadaanya. Begitupun sebaliknya, individu berusaha mengambil jarak dan memproses dirinya untuk membentuk perilakunya yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang sesuai dengan perilaku yang telah ada pada dirinya. Dan barulah dikatakan sebagai individu jika individu bisa membaur dengan lingkungan sosialnya yaitu masyarakat.

3.2.  KRITIK DAN SARAN


               Dalam Makalah Ini Kami  membutuhkan Kritik dan saran yang dapat disampaikan ke Penulis Langsung atau di Contact Person : Agunganugrah00@gmail.com Atau juga Bisa di Http//::gurunyailmu.blogspot.com






DAFTAR PUSTAKA

 Prof. Dr. Hajjah Bainar, Drs. H. Ruslan Abdul Rahman, Drs. M. Jafar Anwar, M, Si. Ilmu Sosial, Budaya, dan Kealaman Dasar.
Soelaeman, M. Munandar. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Refika Aditama. Bandung : 2004
Wahyu, Ramdani, M.Ag.,M.Si. ISD (Ilmu Sosial Dasar). Pustaka Setia. Bandung : 2007

 Hakim, arifin M. Ilmu Sosial Dasar (Teori dan Konsep Ilmu Sosial). Bandung. Pustaka Satya. 2001
http//::gurunyailmu.blogspot.com
Dan Berbagai Sumber Lainya Yang Penulis Dapat kan


[1] Prof. Dr. Hajjah Bainar, Drs. H. Ruslan Abdul Rahman, Drs. M. Jafar Anwar, M, Si. Ilmu Sosial, Budaya, dan Kealaman Dasar
[2] Prof. Dr. Hajjah Bainar, Drs. H. Ruslan Abdul Rahman, Drs. M. Jafar Anwar, M, Si. Ilmu Sosial, Budaya, dan Kealaman Dasar
[3] Soelaeman, M. Munandar. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Refika Aditama. Bandung : 2004
[4] Wahyu, Ramdani, M.Ag.,M.Si. ISD (Ilmu Sosial Dasar). Pustaka Setia. Bandung : 2007

[5] Prof. Dr. Hajjah Bainar, Drs. H. Ruslan Abdul Rahman, Drs. M. Jafar Anwar, M, Si. Ilmu Sosial, Budaya, dan Kealaman Dasar

[6] Menurut Departemen Kesehatan RI 1998
[7] Ki Hajar Dewantara
[8] Menurut Salvicion dan Ara Celis
[9] Hakim, arifin M. Ilmu Sosial Dasar (Teori dan Konsep Ilmu Sosial). Bandung. Pustaka Satya. 2001

Medan Makna : Denotasi, Konotasi, Antonim dan Sinonim



BAB I I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pada dasarnya kita seering kali mendengar itilah dari Antonim,Sinonim, Denotatif dan juga Konotatif. Namun juga tak banyak dari kita yang paham dan juga mengerti apa arti dari istilah trsebut. Dilatar belakangi oleh masalah tersebut lah makalah ini dibuat dan semoga makalah ini dapat bermanfaat dengan baik dan dapat digunakan dengan baik.


1.2 RUMUSAN MASALAH

1. APA ITU PENGERTIAN DENOTATIF ?
2. APA ITU PENGERTIAN KONOTATIF ?
3. APA ITU ENGERTIAN SINONIM ?
4. APA ITU PENGERTIAN ANTONIM ?

1.3TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini bertujuan untuk dapat memahami apa yang sudah dijelaskan dalam latar belakang dari penulisan makalah ini. Dan juga Bertujuan untu memnuhi tugas dari mata kuliah “ Bahasa Indonesia “




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DENOTATIF
Makna  Denotatif  adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut maka konseptual, makna denotasional atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain. Pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotasi ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya.
Denotatif adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran (Lyons, I, 1977:208). Dalam beberapa buku pelajaran, makna denotatif sering juga disebut makna dasar, makna asli, atau makna pusat.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa makna denotatif adalah makna sebenarnya yang apa adanya sesuai dengan indera manusia. Kata yang mengandung makna denotatif mudah dipahami karena tidak mengandung makna yang rancu walaupun masih bersifat umum. Makna yang bersifat umum ini maksudnya adalah makna yang telah diketahui secara jelas oleh semua orang. Berikut ini beberapa contoh kata yang mengandung makna denotatif:
1. Dia adalah wanita yang cantik
Kata cantik ini diucapkan oleh seorang pria terhadap wanita yang berkulit putih, berhidung mancung, mempunyai mata yang indah dan berambut hitam legam.
2. Tami sedang tidur di dalam kamarnya.
Kata tidur ini mengandung makna denotatif bahwa Tami sedang beristirahat dengan memejamkan matanya (tidur).


Masih banyak contoh kata-kata lain yang mengandung makna denotatif selama kata itu tidak disertai dengan kata lain yang dapat membentuk makna yang berbeda seperti contoh kata wanita yang makna denotasinya adalah seorang perempuan dan bukan laki-laki. Namun bila kata wanita disertai dengan kata malam (wanita malam) maka akan menghasilkan makna lain yaitu wanita yang dikonotasikan sebagai wanita nakal.

2.2. KONOTATIF

Zgusta (1971) berpendapat makna konotatif adalah makna semua komponen pada kata ditambah beberapa nilai mendasar yang biasanya berfungsi menandai. Menurut Harimurti (1982) “aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca)”.
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi, tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Positif dan negatifnya nilai rasa sebuah kata seringkali juga terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang. Jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif maka akan bernilai rasa yang positif; dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif maka akan bernilai rasa negatif. Misalnya, burung garuda karena dijadikan lambang negara republik Indonesia maka menjadi bernilai rasa positif sedangkan makna konotasi yang bernilai rasa negatif seperti buaya yang dijadikan lambang kejahatan. Padahal binatang buaya itu sendiri tidak tahu menahu kalau dunia manusia Indonesia menjadikan mereka lambang yang tidak baik.
Makna konotatif sebuah kata dapat berbeda dari satu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kelompok masyarakat tersebut. Misalnya kata babi, di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama islam, memiliki konotasi negatif karena binatang tersebut menurut hukum islam adalah haram dan najis. Sedangkan di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas bukan islam seperti di pulau Bali atau pedalama Irian Jaya, kata babi tidak berkonotasi negatif.
Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti “cerewet” tetapi sekarang konotasinya positif. Sebaliknya kata perempuan dulu sebelum zaman Jepang berkonotasi netral, tetapi kini berkonotasi negatif.
      Jadi Konotasi dapat diartikan, Makna Konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang lain. Makna konotasi adalah makna kiasan
Contoh :
1. Dalam peristiwa itu, dia dijadikan kambing hitam. (kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan)
2. Anak itu berangkat besar ketika ayahnya pergi ke Jepang. ( berangkat bermakna beranjak atau mulai menjadi )
3. Bunga desa itu sudah menjadi karyawan bank.(Kata “bunga desa” bermakna sesuatu yang dianggap cantik) 

2.3 PERBEDAAN ANTARA DENOTATIF DAN KONOTATIF
Dari penjelasan diatas kita sudah tau apa itu Denotatif dan Konotatif, untuk dapat membedakan antara Denotatif dan Konotatif berikut perbedaan antara keduanya dari Beberapa contoh berikut ini
1)     meluap
denotasi : Banjir yang terjadi kemarin disebabkan oleh air sungai yang meluap tak mampu dikendalikan oleh tanggul yang ada disekitanya.
konotasi : Kemarahan Pak Budi makin hari tambah meluap karena masalah yang diperbantahkan itu tidak pernah menemukan titik permasalahannya.
2)     Penuh
denotasi : Lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pusat hiburan itu telah terisi penuh oleh pemukiman penduduk.
konotasi : Pekerjaan itu dilakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab.



3)     naik
denotasi : Pak Halim pergi ke Makassar dengan naik mobil pribadi.
konotasi : Naik turunnya harga barang sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan konsumen.
4)     tumbuh
denotasi : Pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah Pak Ilham memiliki buah yang besar-besar.
konotasi : Kondisi perekonomian Indonesia mulai tumbuh sejak beralihnya sistem pemerintahan ke era reformasi.
5)     atas
denotasi : Di atas pohon yang rindang itu ada terdapat beberapa sarang burung hantu.
konotasi : Irama yang muncul pada permukaan tembok itu ditimbulkan atas beberapa perpaduan warna
6)     kendali
denotasi : Nakhoda memberikan instruksi kepada para penumpang kapal agar waspada, sebab kendali dalam kapal sedang mengalami gangguan.
konotasi : Peristiwa itu terjadi saat dirinya telah kehilangan kendali.(kontrol)
7)     panas
denotasi : Permukaan kulit pada anak itu lecet akibat tersiram air panas.
konotasi : Suhu dalam ruangan itu semakin panas ketika peserta diskusi dalm ruangan itu saling beradu argumen. (panas=ketegangan)
8)     hancur
denotasi : Mainan anak pak lurah hancur terinjak mobil.
konotasi : Semua perkataannya kedengaran hancur akibat terbawa emosi .(hancur= tidak masuk akal).
9)     arus
denotasi : Adik terseret arus yang sangat deras saat menyeberang sebuah sungai di tepi rumahnya.
konotasi : Arus balik pada lebaran tahun depan diprediksikan akan lebih banyak dibandingkan tahun kemarin.(arus=sistem)


2.4. SINONIM

Sinonim berasal dari bahasa Yunani Kuno “Syn” > berarti dengan dan “Onoma” > berarti nama. Jadi sinonim adalah kata yang berbeda namun memiliki arti yang mirip atau sama. Menurut Abdul Chaer “Sinonim merupakan hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran yang lainnya”
Dalam hal ini sinonim sangat mudah dimengert biasanya seseorang menggunakan kata yang bermakna sama atau sinonim dari kata lain bertujuan untuk penghalusan makana, Atau bertujuan untuk memudahkan seseorang mengerti apa yang ia katakan. Atau juga bertujuan untuk penghalusan makana yang bertujuan agar tidak membuat orang tersinggug atau marah dalam percakapan sehari – hari.
Ada 2 ciri – ciri kata sinonim yaitu :
1.     Kedua Kata Memiliki makna yang sama, namun berbeda dalam penyebutan atau istilah ( Mencicil = Kredit )
2.     Kedua Kata tersebut harus dapat saling ditukar dalam konteks kalimat yang sama (“Dia membayar kredit motornya hari ini” =  “Dia Membayar Cicilan Motornya hari ini)

Berikut beberapa contoh kata sinonim  :
·      Mobil pak Tono dibeli dengan cara kredit, karena ia lebih suka mencicil dari pada membayar penuh.  sinonim dari kredit = mencicil
·      Semoga saja bu Sinta itu tidak berdusta, karena organisasi tidak menyukai orang yang suka berbohong. sinonim dari berdusta = berbohong
·      Andi merupakan Anak yang cermat, Sehingga dia sangat teliti dalam mengerjakan ujianya.Sinonim Ceramat = Teliti
·      Baju Ani sangat Indah, Ketika dia Menggunakan Pakaian pestanya. Sinonim Baju = Pakaian
·       Ari sangat Haus, Dia membeli minum untuk menghilangkan Rasa Dahaganya. Sinonim Haus = Dahaga

Adapun sinonim terbagi menjadi 2 macam yaitu :
1.   Sinonim yang sama Maknanya
Maksut dari sinonim yang sama maknanya sama seperti penjelasan yang telh diuraikan diatas, contoh: “ Para turis tertarik Berlawatan  ke yogyakarta karna masyarakat yoga sangat ramah “ = “ para turis tertarik Melancong ke yogyakarta karna masarakat yoga sangat ramah”
2.   Sinonim yang hampir sama maknanya
Maksut dari sinonim yang hampir sama maknanya dalam dua kalimat menggunakan kata yang sama namun memiliki berbeda sedikit dalam Makna yang sebenarnya, Contoh “ Kakaknya meninggal karna Sakit keras “ dalam kalimat lain “Kakaknya meninggal karan kecelakaan” dalam dua kalimat diatas seseorang sama – sama meninggal namun berbeda dalam penyebab atau alasan mengapa dia meninggal

2.5 ANTONIM
Antonim merupakan lawan dari sinonim, Maksutnya  Antonim Ialah kata yang memiliki arti yang berlawanan makna.Atau 2 kata yang memiliki makna yang bertentangan.
Adapun Ciri – ciri kata antonim ialah sebagai berikut :
1.     Kedua kata tersebut tidak dapat ditukarkan dalam konteks klimat yang sama, Contoh : “Disini  Didaerah Padang Pasir Cuacanya sangat Panas “ namun dalam kalimat lain “ Disini didaerah pegunungan Cuacanya Sangat Dingin” dari Kalimat diatas nampak jelas berbeda maknanya, dan tak dapat ditukar antara kata dingin dan panas dalam kalimat tersebut
2.      Kedua kata memilki makna yang berbeda. Contoh : Panas <> Dingin, Hidup<>Mati



2.6 Macam-macam Antonim

1.    Antonim Mutlak
Ialah Antonim yang mempertentangkan makna secara mutlak
contoh : Ia Hidup dibumi. Ia pun mati dibumi, dari contoh tersebut terlihat mutlak memang benar – benar terjadi. Antonim Hidup x Mati
2.    Antonim Kutub
Ialah Antonim yang mempertentangkan makna secara gradiasi atau tingkatan antar makna  kata
Contoh : Sewaktu Masi muda, ibu aktif bergabung dalam kegiatan karang taruna, namun karna sekarang sudah Tua, Ibu lebih sering dirumah. Dari Contoh diatas menjelaskan antara Kata muda dan tua memiliki tingkatan. Antonim Muda x Tua
3.    Antonim Hierarkial
Ialah Antonim yang mempertentangkan makna kata yang memiliki tingkatan atau perbandingan
Contoh : Becak hanya mampu membawa satu kuintal beras, sedangkan truk itu mampu mengangkut tiga ton beras. Dari contoh tersebut terlihat perbandingan antara truk dan becak yang. Antonim Hanya Mampu x Mampu
4.    Antonim Majemuk
Sebuah Kata yang memiliki antonim lebih dari satu
Contoh : Para penonton berdiri dibawah panggung  peertunjukan, Para tamu undangan duduk ditempat yan telah disediakan. Sedangkan anto sang pelawak, Melakukan Adegan berbaring dipanggung. Dari contoh diatas ada lebih dari satu antonim yang pertama Berdiri, Duduk dan Berbaring






BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN       
MAKNA DENOTATIF

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut maka konseptual, makna denotasional atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain. Pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotasi ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya.
            MAKNA KONOTATIF
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi, tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Positif dan negatifnya nilai rasa sebuah kata seringkali juga terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang.
            MAKNA SINONIM
Sinonim berasal dari bahasa Yunani Kuno “Syn” > berarti dengan dan “Onoma” > berarti nama. Jadi sinonim adalah kata yang berbeda namun memiliki arti yang mirip atau sama. Menurut Abdul Chaer “Sinonim merupakan hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran yang lainnya”


            MAKNA ANTONIM
Antonim merupakan lawan dari sinonim, Maksutnya  Antonim Ialah kata yang memiliki arti yang berlawanan makna.Atau 2 kata yang memiliki makna yang bertentangan.
3.2 KRITIK DAN SARAN
Penulis menyadari dalam penulisan atau pembuatan makalah ini kami masih banyak memiliki kekurangan dan juga makalah ini juga sangat  jauh dari kata sempurna. Untuk itu kritik dan juga saran yang membangun sangat kami butuhkan agar dalam pembuatan makalah yang selanjutnya kami dapat lebih baik lagi dari ini
           












DAFTAR PUSTAKA

Chair, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Harimurti, 1997. Berbahasa Indonesia. Bandung : Cipta Karya
Dan Berbagai sumber lainya yang penulis dapatkan